Gue tuh dulu mikir arisan itu solusi finansial paling cerdas yang pernah diciptakan emak-emak. Bayangin aja, tiap bulan nyetor sedikit, terus suatu hari dapat giliran cair gede. Rasanya kayak nemu harta karun. Bisa buat beli kulkas baru, bayar sekolah anak, atau sekadar healing tipis-tipis ke mall tanpa harus nunggu tanggal gajian suami. Makanya waktu diajak ikut arisan komplek, gue langsung daftar. “Lumayan buat nabung,” pikir gue. Awalnya semuanya manis. Grup WhatsApp rame tapi sopan. Setoran lancar. Kalau ada yang dapat giliran, kita semua ikut heboh. Foto uang ditata rapi di meja, captionnya penuh syukur. Kompak, harmonis, penuh senyum. Sampai akhirnya… drama dimulai. Pertama, ada tipe anggota yang udah dapat giliran di awal, tapi pas bulan-bulan berikutnya setorannya mulai ngilang. Alasannya macam-macam. Anak sakit, suami telat gajian, motor mogok, sampai alasan klasik: “Besok ya, Bun.” Yang tadinya arisan terasa seperti tabungan bersama, lama-lama berubah jadi acara n...