Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala.
Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak.
Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue butuh uang itu buat bayar keperluan rumah. Gue mulai resah. Masa iya gue harus utang lagi ke orang lain demi nutup uang yang gue pinjemin?
Dengan hati-hati, gue memberanikan diri nagih. Bukan nagih kasar ya, cuma nanya pelan, “Bu, yang kemarin gimana ya?” Eh, bukannya jawab manis, dia malah langsung pasang muka jutek. Nadanya naik, matanya melotot, seolah gue ini penagih rentenir. Katanya, “Iya tahu, sabar dong! Emang cuma kamu doang yang punya kebutuhan?”
Dalam hati gue cuma bisa, “Lah, yang ngutang siapa, yang galak siapa?” Rasanya pengen ketawa tapi juga pengen nangis. Dari situ gue sadar, ada tipe manusia yang pas butuh, suaranya lembut kayak kapas. Tapi pas ditagih, berubah jadi singa lapar.
Sejak kejadian itu, suasana tetangga jadi canggung. Gue kalau papasan cuma senyum tipis. Dia pun begitu. Kadang gue mikir, uang itu memang bisa balik, tapi rasa percaya yang udah pecah, susah buat direkatkan lagi. Gue juga belajar, gak semua orang yang manis di awal akan manis sampai akhir.
Akhirnya beberapa minggu kemudian, uangnya dibalikin. Ditaruh di tangan gue tanpa sepatah kata pun. Gue terima, tapi rasanya hambar. Bukan soal nominalnya lagi, tapi soal pelajaran hidup yang baru aja gue lewatin.
Sekarang kalau ada yang bilang, “Bu, boleh pinjem dulu?”, refleks gue langsung senyum kaku. Bukan gue pelit. Gue cuma gak mau lagi ada drama emak-emak episode pinjam duit jilid dua. Karena gue sadar, ketenangan hidup bertetangga jauh lebih mahal daripada sekadar angka di dompet.

Komentar
Posting Komentar