Langsung ke konten utama

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala.

Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak.

Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue butuh uang itu buat bayar keperluan rumah. Gue mulai resah. Masa iya gue harus utang lagi ke orang lain demi nutup uang yang gue pinjemin?

Dengan hati-hati, gue memberanikan diri nagih. Bukan nagih kasar ya, cuma nanya pelan, “Bu, yang kemarin gimana ya?” Eh, bukannya jawab manis, dia malah langsung pasang muka jutek. Nadanya naik, matanya melotot, seolah gue ini penagih rentenir. Katanya, “Iya tahu, sabar dong! Emang cuma kamu doang yang punya kebutuhan?”

Dalam hati gue cuma bisa, “Lah, yang ngutang siapa, yang galak siapa?” Rasanya pengen ketawa tapi juga pengen nangis. Dari situ gue sadar, ada tipe manusia yang pas butuh, suaranya lembut kayak kapas. Tapi pas ditagih, berubah jadi singa lapar.

Sejak kejadian itu, suasana tetangga jadi canggung. Gue kalau papasan cuma senyum tipis. Dia pun begitu. Kadang gue mikir, uang itu memang bisa balik, tapi rasa percaya yang udah pecah, susah buat direkatkan lagi. Gue juga belajar, gak semua orang yang manis di awal akan manis sampai akhir.

Akhirnya beberapa minggu kemudian, uangnya dibalikin. Ditaruh di tangan gue tanpa sepatah kata pun. Gue terima, tapi rasanya hambar. Bukan soal nominalnya lagi, tapi soal pelajaran hidup yang baru aja gue lewatin.

Sekarang kalau ada yang bilang, “Bu, boleh pinjem dulu?”, refleks gue langsung senyum kaku. Bukan gue pelit. Gue cuma gak mau lagi ada drama emak-emak episode pinjam duit jilid dua. Karena gue sadar, ketenangan hidup bertetangga jauh lebih mahal daripada sekadar angka di dompet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?” Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe. Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet. Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, ...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...