Langsung ke konten utama

Pray For Sumatera

Gue duduk di teras rumah, nyeruput kopi sachet yang rasanya antara pahit, manis, dan nasib. Sambil scroll berita, mata gue langsung melek. Banjir bandang di Sumatera. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat… tapi yang paling parah, katanya, Aceh. Terjadi di penghujung November, pas orang-orang lagi siap-siap tutup tahun, alam malah buka tagihan.

Gue tarik napas panjang.

Ini bukan sekadar hujan deras biasa. Ini banjir yang datang kayak tamu tak diundang, bawa lumpur, kayu, dan tangis orang-orang yang rumahnya hanyut entah ke mana. Dan kata berita, salah satu biangnya: pembalakan hutan.

Nah… di sini kepala gue mulai legeng legeng kelapa alias geleng-geleng kepala.

Hutan ditebang. Gunung dibotakin. Pohon yang harusnya jadi benteng air malah jadi kayu papan entah buat vila siapa. Pas hujan turun, air nggak punya tempat pelukan lagi. Jadilah… banjir bandang. Alam tuh sebenarnya sabar, tapi kalau udah marah, ya wassalam.

Yang bikin dada emak Remphong makin nyesek bukan cuma banjirnya. Tapi penanganannya yang lemotnya kayak sinyal HP di dalam lift.

Bantuan datang… tapi kayaknya lebih cepat datangnya rombongan pejabat daripada logistik.

Gue liat di TV: pejabat turun ke lokasi, sepatu boots masih kinclong, jaket lapangan masih bau toko, kamera langsung siaga. Pose dulu. Senyum dulu. Tunjuk sana sini dulu. Salam ke korban. Wawancara. Lantas… pulang.

Pencitraan level dewa.

Bener-bener bikin emak legeng legeng kelapa sampai kopi gue tinggal ampas.

Padahal yang dibutuhkan warga di sana bukan foto-foto. Tapi makanan, selimut, obat, dan kepastian. Bukan janji manis yang hilang setelah kamera mati.

Gue sebagai emak Remphong cuma bisa ngelus dada. Kadang gue mikir, ini negara kaya sumber daya… tapi kok rakyatnya sering dibiarkan bertahan sendiri?

Nyedih. Nyesek. Kayak hati habis lihat saldo ATM akhir bulan. Akhirnya gue angkat tangan, bukan mau demo, tapi berdoa.

Ya Allah…

Semoga saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat segera diberi kekuatan. Semoga banjir surut, luka terobati, dan hidup bisa dimulai lagi. Dan semoga… semoga juga Indonesia cepat membaik. Bukan cuma alamnya, tapi juga hatinya para pemangku kuasa.

Gue seruput lagi kopi terakhir. Pahitnya masih sama. Tapi doa emak Remphong… mudah-mudahan sampai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala. Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak. Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue bu...

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?” Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe. Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet. Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, ...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...