Langsung ke konten utama

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?”

Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe.

Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet.

Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, yang ada panas terik plus jemuran yang belum diangkat. Boro-boro salju, yang ada debu jalanan nempel di sprei.

Belum lagi sosok oppa-oppa itu. Tampan, tinggi, suaranya lembut, tatapannya bikin jantung salto. Tapi ya ampun… gak bisa disentuh. Mau meluk layar TV juga takut kena setrum. Akhirnya cuma bisa ngelus dada sendiri sambil bisik, “Ya Tuhan… jauh amat jodohku.”

Walau begitu, drakor tetap punya tempat di hati gue. Soalnya di tengah hidup emak-emak yang penuh deadline—cucian, setrika, masak, antar jemput anak, arisan, tagihan—nonton drakor tuh kayak tombol pause. Hiburan kecil buat nyelarasin hidup yang kadang rasanya jungkir balik.

Tapi gue selalu inget satu hal. Estafet nonton drakor jangan sampai ngalahin kewajiban emak-emak. Jangan sampai karena ngejar episode terakhir, nasi gosong, anak belum mandi, dan suami makan mie mentah.

Jadi sekarang gue punya prinsip: drakor boleh, halu boleh, tapi realita tetap harus diurus. Oppa di layar cuma hiburan. Yang nyata tetaplah cucian yang menumpuk dan dompet yang tipis.

Dan begitulah hidup emak Remphong. Setiap habis nonton drakor, gue suka legeng legeng kelapa alias geleng-geleng kepala sendiri. Antara ketawa, antara pasrah. Tapi ya sudahlah… selama hati senang, dapur tetap ngebul, dan keluarga tetap kenyang.

Karena ternyata… drakor bukan buat dicari realitanya. Drakor itu vitamin hati. Biar emak-emak tetap waras di tengah dunia yang kadang bikin rempong setengah mati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala. Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak. Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue bu...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...