Gue tuh heran ya… baru juga bulan Mei, matahari belum terlalu niat bersinar, hujan masih suka nyelonong sore-sore, tapi grup WhatsApp emak-emak komplek udah panas kayak wajan minyak goreng. Bukan bahas gosip artis, bukan juga diskon sembako… tapi open house sekolah!
Iya, sekolah! Sekolah swasta. Sekolah favorit.
Sekolah “katanya sih lulusannya langsung jadi CEO sejak TK”.
Gue sampe legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala.
Ini anak gue baru juga bisa nulis namanya tanpa huruf kebalik, tapi kursi sekolahnya udah diperebutkan kayak rebutan tiket konser K-Pop.
Di grup, emak-emak lain udah mode intel.
“Bu, kuota tinggal 3 loh!”
“Bu, daftarnya jam 00.01 biar aman!”
“Bu, siapin uang formulir dulu, jangan sampe kalah cepat!”
Lah… ini daftar sekolah apa battle royale?
Yang lambat, gugur.
Yang sinyalnya jelek, wassalam.
Yang salah klik, auto nangis di pojokan.
Gue sampe mikir, ini anak yang sekolah apa emaknya yang sekolah? Karena yang stres duluan jelas… gue. Belum lagi open house. Dateng ke sekolah-sekolah itu rasanya kayak datang ke pameran mobil mewah.
Gedung kinclong. AC dingin. Guru ramah kayak pramugari.
Presentasi power pointnya bikin gue hampir lupa kalau ujung-ujungnya… biaya masuknya bikin dada sesak.
Tapi ya namanya emak Remphong. Walau dompet tipis, gengsi harus tebal. Minimal datang dulu, tanya-tanya dulu, foto-foto dulu.
Biar pas kumpul arisan bisa bilang,
“Eh gue kemarin survei sekolah A loh…”
Padahal surveinya sambil ngitung napas.
Dan yang paling bikin gue ngakak, ada emak yang rela ngeWAR kursi.
Jam buka pendaftaran jam 8 pagi. Dia udah standby jam 7.30, jari siap di atas mouse, kopi di samping, doa dipanjatkan. Begitu jam 8 lewat 2 menit…
“Ya ampun Bu, kuotanya penuh!”
Langsung drama Korea versi lokal.
Bedanya, soundtracknya bukan piano sendu, tapi notifikasi WhatsApp bertubi-tubi.
Akhirnya gue cuma bisa legeng-legeng kelapa lagi. Mei belum selesai, tapi tenaga emak-emak udah terkuras. Persiapan sekolah anak ternyata bukan cuma soal pendidikan… tapi juga soal mental, sinyal, dan saldo rekening.
Ah sudahlah.
Yang penting anak gue nanti sekolah, belajar, jadi pintar, dan ingat satu hal:
“Semua ini terjadi karena dulu emakmu… ikut WAR kursi sekolah.”
Gue tutup laptop. Tarik napas.
Dan siap… menghadapi Juni, bulan pembayaran uang pangkal.
**Emak Remphong signing out
Komentar
Posting Komentar