Langsung ke konten utama

Emak Remphong dan Mimpi Naik Haji

Gue tuh ya… emak-emak Remphong sejati. Mulut suka rempong, pikiran suka lompat-lompat, dan topik obrolan? Dari harga cabai sampai gosip artis, semua gue lalui. Pokoknya kalau ada bahan ghibah, gue hadir paling depan. Tapi anehnya, di balik semua kerepotan dan kerecehan ini, hati gue juga suka tiba-tiba mellow sendiri.

Ceritanya bermula pas gue lagi scroll HP, niatnya cari diskon minyak goreng, eh malah muncul berita: Afgan naik haji. MasyaAllah… langsung gue pause. Gue tatap layar, terus tatap diri sendiri di kaca. Dalam hati gue bilang, “Ya Allah… gue juga pengen…”

Tiba-tiba rasa pengen naik haji itu meledak-ledak. Bukan cuma pengen, tapi pengen banget. Sampai gue ngomong sendiri,

“Ya ampun, kalau Afgan bisa, masa gue nggak bisa?”

Padahal habis itu gue langsung sadar… Afgan nyanyi satu lagu bisa dibayar berapa, sedangkan suami gue… gajiannya tiap bulan udah kayak lari estafet. Baru masuk rekening, langsung dikejar deadline: listrik, sekolah anak, cicilan ini-itu. Duitnya belum sempat duduk manis, udah disuruh pergi lagi. Gue cuma bisa tepuk jidat.

Terus gue kepikiran, “Oke, kalau niat ada… duit dari mana, ya?”

Gue hitung-hitung kasar. Bukan pakai kalkulator, pakai perasaan. Dan hasilnya? Kosong. Hahaha.

Belum selesai di situ, gue baca lagi soal kuota haji Indonesia. Daftar tahun 2025, berangkatnya tahun 2045. Gue langsung…

“Lah… itu mah gue udah jadi nenek Remphong dong!”

Udah gigi palsu, rambut uban, masih antre panggilan haji. Ini bener-bener bikin gue legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala.

Tapi ya begitulah hidup emak-emak. Antara mimpi dan realita suka tabrakan. Satu sisi mulut rempong ngomongin sana-sini, sisi lain hati tetap punya doa yang diam-diam besar.

Akhirnya gue tarik napas panjang.

“Ya udahlah… niat aja dulu, ya Allah. Kalau rezeki, umur, dan kesempatan ada… pasti Engkau bukakan jalan.”

Karena siapa tahu, di balik emak Remphong yang suka ghibah ini, ada satu mimpi suci yang pelan-pelan dikabulkan.

Aamiin ya Rabb 🤍

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala. Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak. Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue bu...

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?” Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe. Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet. Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, ...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...