Langsung ke konten utama

September Ceria ala Emak Remphong


Gue tuh selalu punya hubungan spesial sama bulan September. Entah kenapa, tiap masuk September, hawa-hawanya tuh kayak… “ayo semangat lagi, hidup jangan kalah sama cicilan.” Padahal ya… cicilan tetap jalan, harga beras tetap naik, dan saldo rekening tetap suka main petak umpet.

Tapi sebagai emak Remphong, gue wajib pasang mode September Ceria. Walau kadang yang ceria cuma stiker di status WA.

Pagi ini gue ngopi di dapur sambil ngelihatin anak gue yang lagi siap sekolah. Dalam hati gue ngomong, “Nak, semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat. Bukan kuat makan seblak level lima doang, tapi kuat menghadapi hidup.” Gue pengen dia punya masa depan yang lebih ringan dari pundak emaknya. Gak perlu mikirin uang kas kelas, biaya study tour, sama drama grup WhatsApp orang tua murid yang rame lebih dari sinetron.

Terus gue nengok suami. Lagi siap berangkat kerja, mukanya antara semangat dan pasrah. Gue bisik dalam hati, “Ya Allah, jaga dia. Semoga rezekinya lancar, hatinya lapang, dan gajinya naik… bukan cuma tekanan darahnya.” Soalnya tiap akhir bulan, kita berdua tuh suka duduk bareng ngeliatin tagihan. Bukan romantis. Tapi bonding.

Dan lalu… gue buka berita. Nah ini dia. Bagian yang bikin legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala nasional. Harga-harga naik, drama politik gak ada habisnya, jalanan macet, bansos ribet, komentar netizen lebih pedas dari sambal bawang. Gue cuma bisa narik napas panjang. “Indonesia, semoga kamu sehat. Karena kalau kamu gak sehat, emak-emak kayak gue yang pertama pusing.”

Tapi ya gitu… walau kepala geleng-geleng, hati tetap berharap. September buat gue bukan cuma pergantian bulan. Ini tanda bahwa hidup terus jalan. Walau kadang terseok, walau kadang pengen nyerah, tapi emak Remphong gak boleh tumbang. Karena kalau emak tumbang, rumah langsung mode darurat.

Gue pengen September ini jadi bulan penuh doa yang diam-diam. Doa buat anak gue tumbuh baik. Doa buat suami tetap kuat. Doa buat negeri ini lebih tenang. Walau kadang doa gue diselipin juga: “Ya Tuhan, tolong kurangi drama… tambahin diskon.”

Jadi kalau kalian lihat gue senyum di luar, jangan salah. Itu bukan karena hidup gampang. Itu karena gue, emak Remphong, udah ahli menyulap lelah jadi tawa.

Selamat datang, September. Semoga kamu benar-benar ceria. Jangan PHP kayak saldo rekening gue.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala. Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak. Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue bu...

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?” Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe. Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet. Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, ...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...