Langsung ke konten utama

Drama Emak-Emak Remphong: MBG, Makan Bergizi atau Makan Bikin Gosip?


Gue tuh sebenernya emak biasa. Biasa ribet, biasa kepo, biasa merasa paling update sedunia. Apalagi kalau udah nyangkut urusan sekolah anak. Nah, beberapa bulan terakhir, grup WhatsApp emak-emak kelas rame bukan main gara-gara satu topik MBG alias Makan Bergizi Gratis.

Awalnya gue seneng banget. Dalam hati, “Wah mantap, anak gue makan siang gratis di sekolah. Dompet gue bisa napas.” 

Gue langsung masuk kubu pro-MBG garis keras. Sampai gue bela-belain share artikel, video, bahkan broadcast yang entah sumbernya dari mana. Pokoknya gue dukung penuh.

Tapi namanya juga grup emak-emak Remphong. Kedamaian itu cuma bertahan tiga hari.

Hari keempat, Bu Rina nyaut,

“Eh, katanya menu MBG hari ini cuma nasi, tempe, sama kuah bening doang ya?”

Bu Susi langsung nimbrung,

“Lah itu mah makan anak kos, bukan makan bergizi!”

Gue yang tadinya pro, mulai goyah.

“Iya juga ya… bergizi sih iya… tapi kok… ya… gitu amat?”

Besoknya makin seru. Ada foto beredar. Entah asli entah editan. Katanya lauk ayamnya sekecil perangko. Grup langsung meledak.

“Ini namanya MBG atau Makan Bikin Ghibah?!”

“Kasian anak-anak, gizinya dari mana?”

“Yang penting gratis dulu bu, nanti kualitas menyusul.”

Nah lho. Di sinilah drama dimulai.

Kubu pro bilang, “Namanya juga program baru, wajar masih adaptasi.”

Kubu kontra bilang, “Kalau adaptasinya kelamaan, anak kita yang jadi kelinci percobaan!”

Gue? Gue di tengah-tengah. Kayak bakso di antara mie dan kuah.

Di satu sisi, gue paham niatnya bagus. Anak-anak Indonesia memang butuh makan bergizi. Banyak yang berangkat sekolah cuma sarapan teh manis sama gorengan. Jadi MBG tuh harapan besar.

Tapi di sisi lain, gue juga ngeliat realita. Dapur sekolah belum siap. Distribusi belum rapi. Menu kadang kurang variasi. Katanya bergizi, tapi kalau anak gue pulang masih minta makan mie instan dua porsi, berarti ada yang salah dong?

Sampai akhirnya puncak drama terjadi saat rapat wali murid.

Bu Ketua Korlas ngomong serius,

“Kita dukung MBG, tapi kita juga perlu kontrol kualitas.”

Tiba-tiba Bu Susi nyeletuk,

“Yang penting jangan sampai anak kita makan sayur tapi vitaminnya cuma dari kuah rumor!”

Sekolah langsung ketawa. Kepala sekolah senyum kecut. Gue tepuk tangan paling semangat. Dalam hati, “Nah ini emak-emak Remphong bersatu demi gizi bangsa!”

Kesimpulannya?

MBG itu penting. Niatnya mulia. Tapi pelaksanaannya masih perlu banyak bumbu: bumbu perbaikan, bumbu pengawasan, dan bumbu kejujuran.

Dan selama itu semua masih proses, emak-emak Remphong seperti gue akan terus menjalankan tugas mulia:

Mengawasi, mengomentari, dan tentu saja… meramaikan grup WhatsApp.

Karena kalau bukan kita yang ribut, siapa lagi? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama Utang Remphong

Siapa sangka hidup di komplek kecil bisa lebih dramatis daripada sinetron sore. Gue, emak-emak biasa yang kerjaannya ngurus rumah, nganter anak sekolah, sama sesekali ngopi di teras, tiba-tiba jadi tokoh utama dalam kisah pinjam-meminjam yang berujung geleng-geleng kepala. Semua bermula dari tetangga gue, sebut aja namanya Bu R. Orangnya ramah, murah senyum, suka nyapa duluan. Awalnya gue salut, karena di lingkungan baru, punya tetangga yang hangat itu rezeki. Sampai suatu sore, dia datang ke rumah dengan wajah penuh cerita. Katanya anaknya butuh biaya ini itu, dompet lagi tipis, dan dia cuma butuh “pinjem sebentar aja”. Gue yang waktu itu masih baper sama kata “tetangga itu keluarga terdekat”, langsung luluh. Gue pinjemin, gak banyak sih, tapi cukup buat ukuran dompet emak-emak. Hari berganti, minggu berganti. Gue masih santai, mikirnya ya namanya pinjem pasti dibalikin. Tapi kok makin lama gak ada kabar. Gue masih positive thinking. Mungkin dia juga lagi susah. Sampai akhirnya gue bu...

Drakor dan Emak Remphong: Antara Halusinasi Oppa dan Realita Cucian

Gue mau jujur ya. Sejak kenal drakor, hidup gue tuh kayak naik roller coaster perasaan. Baru lima menit episode pertama, hati gue udah dipanggil-panggil, “Eonniii… oppaa…”. Padahal di dunia nyata, yang manggil gue bukan oppa, tapi anak: “Buuuu… pipis!”, dan suami: “Mana kaos kaki gue?” Drakor emang punya kekuatan supranatural. Pemainnya tampan, kulitnya kinclong kayak baru keluar dari rice cooker, bajunya rapi, rumahnya gede, dan masalah hidupnya pun estetik. Nangis aja tetep cakep. Lah gue? Nangis karena bawang merah, mata sembab, hidung meler, tetep harus lanjut goreng tempe. Yang bikin gue geleng-geleng kelapa, cerita drakor tuh sering gak ada hubungannya sama kehidupan emak-emak. Di drakor, cinta segitiga, CEO jatuh cinta sama cewek miskin, ketemu di lift, terus jadian. Di hidup gue? Ketemu suami di warung kopi, jadian karena sama-sama punya utang kuota internet. Terus ada adegan romantis di bawah salju. Indah banget. Gue langsung baper. Tapi pas nengok keluar jendela, ...

Dunia yang Makin Remphong

Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...