Gue tuh tiap tahun selalu bilang, “Lebaran kali ini mau santai aja.”
Tapi begitu kalender masuk H-14, gue langsung berubah jadi Project Manager Lebaran Nasional. Semua ada deadline, semua urgent, semua harus gue pegang sendiri. Kalau nggak, bisa-bisa opor belum matang tapi tamu udah datang.
Dimulai dari ritual sakral: bersih-bersih rumah. Gue tiba-tiba punya standar kebersihan setingkat rumah show unit perumahan. Debu setipis bedak bayi aja bisa bikin gue naik darah. Gorden dicuci, sofa disikat, kipas angin dibongkar. Gue sampai mikir, ini nyiapin lebaran atau syuting iklan pembersih lantai?
Belum lagi urusan baju lebaran. Katanya lebaran bukan soal baju baru. Tapi kenyataannya… kalau baju baru belum ada, hati gue gatal. Gue scroll marketplace sampai mata minus nambah dua tingkat. Salah ukuran? Balik lagi. Salah warna? Order lagi. Sampai akhirnya lemari penuh, tapi gue tetap bilang, “Ya Allah, gue nggak punya baju lebaran…”
Lanjut ke pernak-pernik rumah. Toples kue harus bening kinclong. Taplak meja harus baru. Sarung bantal sofa wajib warna senada sama gorden. Gue sendiri kadang bingung, siapa yang bakal ngecek keserasian interior rumah gue? Tamu datang paling duduk, makan, pulang. Tapi ya begitulah… demi estetika Lebaran Nasional.
Nah, masuk ke fase paling krusial: bikin kue kering. Ini momen di mana dapur berubah jadi laboratorium eksperimen. Resep diikuti setengah hati, feeling dipakai sepenuh jiwa. Hasilnya? Ada nastar bantet, kastengel gosong, dan lidah kucing yang bentuknya lebih mirip lidah cicak. Tapi tetap gue susun rapi di toples, karena yang penting niatnya dulu.
Belum lagi belanja bahan masakan lebaran. Pasar mendadak rame kayak konser gratis. Gue dorong troli sambil zig-zag ngindarin ibu-ibu lain yang juga panik. Harga naik? Gue pura-pura tenang, padahal dompet gue nangis tersedu-sedu. Daging, santan, bumbu—semua gue angkut seolah mau buka warung opor cabang internasional.
Dan jangan lupakan THR anak-anak. Dari jauh hari gue udah nyiapin amplop. Tapi tiap kali masuk toko alat tulis, kok amplopnya lucu-lucu semua ya? Akhirnya gue beli lagi, lagi, lagi. Sampai THR-nya kalah mahal sama amplopnya.
Puncaknya adalah H-1 Lebaran. Gue berdiri di tengah rumah, lihat hasil kerja keras gue: rumah wangi, kue penuh, baju tergantung rapi, makanan siap dimasak. Lalu gue tarik napas panjang sambil bilang, “Ya Allah… capek juga ya jadi gue.”
Tapi besok paginya, pas tamu datang, anak-anak ketawa, keluarga kumpul, gue duduk sambil nyeruput teh hangat… tiba-tiba semua repot itu terasa worth it.
Walaupun dalam hati kecil gue bisik lagi:
“Tahun depan… santai aja deh.”
Dan seperti biasa… itu cuma rencana yang nggak pernah kejadian. 😌
Komentar
Posting Komentar