Gue tuh akhir-akhir ini kalau buka berita rasanya bukan baca portal news… tapi trailer film Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dunia makin kacau, politik internasional makin kayak sinetron stripping. Tokoh utamanya? Presiden ini, presiden itu. Plot twist-nya? Ancaman perang. Soundtrack-nya? “Ya Allah…” Terus muncul lagi sosok Si Donald Trump. Ini orang makin hari makin kayak karakter final boss. Baru buka berita, udah ada aja manuvernya. Katanya mau ini, mau itu, negosiasi sambil ngancem. Gue sebagai emak Remphong cuma bisa legeng-legeng kelapa alias geleng-geleng kepala. Pak… ini dunia nyata, bukan game strategi. Belum lagi berita-berita luar negeri yang beredar. Ada isu presiden negara A berseteru sama negara B. Ada kabar Amerika panas-panasan sama Iran. Ada analis ngomong “hati-hati perang dunia ketiga”. Gue baca itu sambil nyuci piring, mendadak spons jatuh sendiri. Ya Allah… gue belum naik haji… belum umroh… tabungan baru cukup buat cicilan rice cooker. Teru...
Gue duduk di teras rumah, nyeruput kopi sachet yang rasanya antara pahit, manis, dan nasib. Sambil scroll berita, mata gue langsung melek. Banjir bandang di Sumatera. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat… tapi yang paling parah, katanya, Aceh. Terjadi di penghujung November, pas orang-orang lagi siap-siap tutup tahun, alam malah buka tagihan. Gue tarik napas panjang. Ini bukan sekadar hujan deras biasa. Ini banjir yang datang kayak tamu tak diundang, bawa lumpur, kayu, dan tangis orang-orang yang rumahnya hanyut entah ke mana. Dan kata berita, salah satu biangnya: pembalakan hutan. Nah… di sini kepala gue mulai legeng legeng kelapa alias geleng-geleng kepala . Hutan ditebang. Gunung dibotakin. Pohon yang harusnya jadi benteng air malah jadi kayu papan entah buat vila siapa. Pas hujan turun, air nggak punya tempat pelukan lagi. Jadilah… banjir bandang. Alam tuh sebenarnya sabar, tapi kalau udah marah, ya wassalam. Yang bikin dada emak Remphong makin nyesek bukan cuma banjir...